topmdi

Perjalanan Haji – 3

In Haji on November 29, 2007 at 5:26 am

Masjid Al Haram dan Sekitarnya
Minggu, 16 Januari 2005

Jam 2.15 sesampai di Hotel Sofittel Mekah kami langsung melakukan Thawaf dan Sa’i, kami melaksanakan Umroh yang ke 3 kali. Saat kembali ke hotel mulailah perjuangan mencari dimana letak koper dan tas masing-masing, untung semua akhirnya mendapatkan barangnya sehingga tidak ada yang saling salah menyalahkan walaupun tas kecil saya tadinya juga ikut terselip.
Rombongan kami ternyata sehotel dengan rombongan Eko Patrio serta Deddy Mizwar.
Di Hotel Sofittel kami mendapat kamar 827 untuk ber 11 (ya betul tidak salah baca, 11 orang), ramai juga yang biasanya berempat sekarang ditambah pak Ustad, Pak Dokter, Pak Wakit, mas Imam, Pak Syam dan beberapa teman lainnya, betul-betul bisa bikin satu regu sepak bola nih.
Disini kesabaran kita diuji karena ada 1 kamar mandi yang dipakai bersama (kalau nggak sabar bisa pakai kamar mandi lain dihotel sih) dan bunyi koor “grook grook” kalau kita tidur yang bisa mengalahkan bunyi simponi manapun kemerduan suaranya, bakat terpendam untuk Haji Idol dalam hal tarik suara hehehe ..

Senin, 17 Januari 2005
Hari ini semua jemaah Haji mengaso dan saling ngobrol saja sambil menunggu waktu sembahyang tiba, saya sempat jalan keluar dengan Pak Riyanto serta mbak Lies menemui saudaranya yang juga naik haji. Jalanan sudah penuh orang, untuk jalan saja susah sehingga teman serombongan banyak yang sembahyang di lobby hotel saja dengan mengikuti Imam di Masjid Haram termasuk saya juga atau bisa juga sembahyang dilorong pertokoan disamping hotel.
Masjid Haram sudah susah dikunjungi karena jemaah Haji sudah banyak yang datang ke Mekah, jalanan penuh sesak apalagi bila tiba saat sembahyang tiba sangat luar biasa melihat kepadatan orang yang melakukan sholat melebar ke jalan-jalan sampai juga diatas escalator yang sempit juga dipakai, tidak terbayangkan bahayanya.

Selasa, 18 Januari 2005
Setelah menunggu bus sejenak, jam 14:00 rombongan kami berangkat ke Mina, saat itu jalan dari Mekah ke Mina cukup macet karena jemaah sudah mulai datang dari segala penjuru, menuju ke kemah perlu keahlian supir mencari jalan terobosan akhirnya kami sampai juga ke kemah dan setelah meletakan barang ditenda/kemah dilingkungan 103 kemudian beristirahat sejenak, setelah Magrib rombongan mulai bergerak ke Padang Arafah dan malam ini juga kami akan tidur ditenda di Padang Arafah.
Kalau bicara Tenda entah mengapa saya selalu ditempatkan tidur dipinggir sebelah kanan pintu tenda, disebelah saya pasti Pak Ustad Abubakar (alm) dan Pak Oka sebelah kiri pintu tenda, mungkin kami termasuk kelompok “Juru kunci” atau sejenis itu ya. Pak Oka semula jarang sekali bicara dan terkesan pendiam, tetapi akhirnya kami bisa cukup akrab dan hubungan kami berlanjut terus saat kami sudah kembali ke Jakarta.

Rabu, 19 Januari 2005

wukuf.jpg

WUKUF
Waktu wukuf mulai dari tergelincir matahari tanggal 9 Zulhijjah sampai dengan terbit fajar tanggal 10 Zulhijjah. Wukuf dinilai sah walaupun dilaksanakan hanya sesaat selama dalam rentang waktu tersebut, tetapi diutamakan mendapatkan sebagian waktu siang dan waktu malam.
Tanggal 8 Zulhijah jamaah haji berpakaian ihram (niat) haji bagi yang berhaji tamattu’ dipemondokkan masing-masing, sedangkan bagi yang berhaji ifrad dan qiran tidak niat haji lagi karena masih dalam keadaan ihram sejak dari miqat saat tiba, setelah itu berangkat ke Arafah.
Pada tanggal 9 Zulhijah bagi jamaah haji yang telah berada dalam kemah masing – masing menanti saat wukuf (ba’da lohor) sambil berdzikir dan ber do’a.
Saat yang kami nantikan akhirnya tiba, hari ini adalah hari penantian selama kami melakukan ibadah haji. ARAFAH adalah HAJI. Sedari pagi kami semua sudah bersiap-siap menunggu waktu dan setelah sembahyang Zhuhur kami berjikir dipimpin Pak Ustad Abu Bakar (alm) sampai sekitar jam 16:30 … Kami telah menjadi Haji.
Alhamdulillah dan tanpa terasa air mata mengalir turun seakan tiada henti. Allah mengabulkan doa kami dari tempat kami berangkat yaitu menunaikan ibadah haji tanpa gangguan apapun.

wukuf2.jpg
Saat menjelang Magrib ketika kami semua berdiri didepan tenda sambil berdoa, terlihatlah suatu pemandangan yang sangat menakjubkan, seakan matahari yang memancarkan sinarnya disela awan sebagai lampu sorot raksasa dari langit Maha Besar Allah.
Disini terlihat kekuasaanNya yang Maha Besar, tidak ada bedanya antara yang kaya atau miskin, berkuasa atau rakyat biasa semuanya sama, sama mengharapkan ridha Nya dan ampunan Nya.
Allah YME membanggakan para jemaah dihadapan para Malaikatnya dengan mengatakan “Lihatlah Umatku menghadapku dengan pakaian yang lusuh dan wajah lelah semua mengharap RidhaKu”, memang betul demikian adanya.
Malam harinya sekitar jam 20:30 rombongan kami bergerak kembali ke Mekah untuk Thawaf Ifadah (Thawaf dalam rangkaian ibadah haji setelah wukuf di Arafah) dan melakukan Sa’i kembali, ternyata rombongan masuk Mekah saat sudah menjelang Subuh.
Jalanan sangat macet disertai klakson banyak mobil yang saling tidak mau mengalah serta debu yang berterbangan dimana-mana, maklum semua jemaah serempak bergerak ke arah Mekah, kami sempat mabit di Muzdalifah berhenti sejenak beristirahat untuk mengambil batu yang akan digunakan melempar.
Aneh ya begitu banyak jemaah tetapi ya jumlah batunya tidak pernah habis.Hati-hati untuk yang turun dari bus, karena bisa tersesat kalau pergi terlalu jauh dari bus dan kita bisa saja tertinggal bus, maklum buanyaak sekali bus saat itu, suasana melebihi stasiun bus Pulogadung saat lebaran mau tiba.
Saya, Pak Dokter Nasution, Pak Oka serta beberapa teman lain biasanya masuk kelompok atau partai “pendiri”, maksudnya ialah selalu berdiri di bus karena kami hanya menggunakan 1 bus sehingga harus ada yang rela berdiri memberikan tempat buat yang lebih tua, pasangan suami istri atau ya yang mau enak sendiri hehehe.

Kamis, 20 Januari 2005
Setelah sembahyang Subuh di Masjid Haram yang mulia, mulailah kami melakukan Thawaf Ifadah dan Alhamdulillah saya bisa sembahyang Iedul Adha di Masjidil Haram ditengah saat saya melakukan Thawaf Ifadah. Akhirnya setelah selesai melakukan Sa’i terkabulah keinginan saya untuk cukur gundul di sini. Cukup dengan SR 10, sambil bercukur berdiri karena banyak yang antri, persis orang Selandia Baru nyukur domba kali ya, rambut saya yang gondrong sudah hilang dan waktunya juga tidak sampai 2 menit.
Jam 14:00 kemudian rombongan kami dengan menggunakan bus yang sama bergerak kembali kearah Mina untuk bermalam di Mina dan melakukan jumroh, jalanan relative lancar tidak seperti saat berangkat dari Mekah ke Mina sebelumnya.

Jum’at 21 Januari 2005
JUMRAH

Apakah yang dimaksud melontar jamrah?
Yang dimaksud ialah melontar jamrah Ula, Wusta dan ‘Aqabah dengan batu kerikil pada hari nahar dan hari-hari tasyrik.
Mana yang dimaksud dengan jumrah Ula, Wusta dan Aqabah?
Jamrah Ula (pertama) adalah jamrah yang terdekat dari arah Haratullisan
Jamrah Wusta (tengah) adalah jamrah yang kedua (yang terletak di tengah-tengah antara jamrah Ula dan jamrah Aqabah).
Jamrah Aqabah (qubra) adalah jamrah yang terjauh dari arah Haratullisan
Tempat melempar Jumroh di Ula, Wustho dan Aqobah sekarang sangat lapang dan luas, anda tidak usah takut berdesakan lagi. Ada 2 lantai dan setiap tempat lempar jumroh sudah berbentuk dinding besar.
Yang perlu dihindari justru waktu-waktu tertentu saat jemaah yang akan melempar dan sudah melempar saling berdesakan untuk mendapatkan jalan, ini yang lebih berbahaya seperti jalur dilorong Mina. Tenda atau kemah kami terletak didekat tempat lempar jumroh hanya sekitar 300 m saja, jadi tidak perlu melewati lorong itu.
Untuk mendapatkan batu, bagi yang tidak sempat cari ketika berhenti di Musdalifah jangan khawatir karena banyak sekali batu terdapat sepanjang jalan ke tempat lempar jumroh.
Cari batu sebesar kelereng saja, jangan lebih besar dari itu, kasihan kalau nyasar kekepala orang lain karena saking semangatnya kita melempar “setan”.

Sabtu, 22 Januari 2005
Setelah melempar Jumroh yang ke tiga, pagi hari jam 1.30, rombongan kami segera bersiap meninggalkan Mina. Berangkat dari Mina jam 3:30 naik angkutan kecil, seperti L300, rombongan kami sebagai kloter pertama dengan komando muthawif kami, mas Imam cuma ber 11 orang saja ternyata jalanan lancar sekali tahu-tahu 20 menit kemudian sudah tiba di Mekah. Sisa rombongan berikutnya menunggu bus.
Rombongan kecil kami kemudian bersiap melakukan Thawaf Wada’ (dilakukan setelah selesai pelaksanaan ibadah haji dan waktu akan meninggalka kota Makkah, baik akan pulang ke Tanah Air atau akan ziarah ke Madinah yang tidak akan kembali lagi ke Makkah) dan rombongan kecil kami terpecah menjadi 3 bagian, saya dengan Martin Lejo kembali ditengah hujan rintik-rintik dipagi hari yang dingin melakukan Thawaf dengan sangat khusuk dari lantai 2 Masjidil Haram sambil memandang Ka’bah dengan rasa haru dalam hati yang entah kapan bisa saya lihat kembali karena setelah thawaf Wada ini tidak diperbolehkan lagi kita memasuki Masjidil Haram kecuali kalau malakukan thawaf wada lagi.
Selesai thawaf wada, kami makan bakso dulu walau rasanya nggak karuan, lumayan sebagai pengisi perut. Yang jualan ya orang Indonesia dan kita bisa beli rokok kretek disini, hhhmmm nikmatnya bagi para rocker atau ahli hisap (istilah para perokok) yang sudah kehabisan bahan bakar seperti saya.
Jam 8:00 pagi rombongan kecil kami segera bergerak ke Maktab 106 menunggu kedatangan rombongan besar sekaligus mengurus segala surat yang diperlukan.
Siang jam 13:00 semua rombongan dengan menggunakan 2 bus, kami berangkat kembali ke Jedah. Terjadi hujan dan badai gurun sepanjang jalan menuju Jedah dan ternyata Jedah banjir, aneh ya, masuk Jedah jam 17:00 disambut banjir setinggi 30 sampai 40 cm.
Jam 18:00 kami masuk ke hotel Holiday Inn, saya menempati kamar 434 sendirian !!!, tidak terbayangkan biasanya berempat atau pernah bersebelas eh sekarang malah sendirian saja (sebetulnya dengan Martin, tetapi kami mendapat 2 kamar sehingga masing-masing tidur dikamar sendiri).
Hujan masih turun rintik-rintik malam itu, menurut berita dari jemaah yang datang belakangan ternyata areal kemah kami saat di Mina juga banjir sore harinya, air hujan dari pegunungan disamping kemah turun dan membanjiri areal kemah yang tadinya kami tempati demikian juga hujan turun sangat lebat di Mekah sesaat setelah kami meninggalkan Mekah. Allah masih melindungi kami dari segala cobaan ini.
Malamnya di Jedah, beberapa teman masih juga jalan mencari sesuatu untuk oleh-oleh kerabat di Jakarta tanpa memperdulikan banjir, sudah biasa banjir di Jakarta mungkin ya.
Umumnya harga di toko dimanapun sama, walau toko itu ada dihotel berbintang seperti Holiday Inn tetapi harganya sama dengan yang dipasar, malahan kita bisa belanja pakai uang rupiah atau kalau ada US$ nilai tukarnya kadang lebih bagus, hal ini patut dicontoh oleh para pengusaha hotel dan/atau pemilik toko yang berlokasi di hotel di Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: