topmdi

Perjalanan Haji – 1

In Haji on November 29, 2007 at 5:25 am

mekahnow4.jpg

Perjalanan ke Haji (hari ke hari)
Setelah mengikuti beberapa kali acara Manasik
di Bidakara dan terakhir di Asrama Haji Pondok Gede, kemudian mengirimkan semua barang yang akan dimasukan kedalam Bagasi sehari sebelum D-day akhirnya tibalah saat yang ditunggu dengan berdebar, yaitu hari keberangkatan ke Tanah Suci. Terus terang saja saya merasa takut kurang lebih selama sebulan sebelum D-day ini karena saya merasa apakah saya memang sudah layak menjadi “Tamu NYA” ditanah suci dan perasaan seperti ini ternyata juga dialami oleh hampir semua teman serombongan saya.

Perjalanan ke Tanah Suci

Dari hari ke hari :
Jum’at, 31 Desember 2004

Pagi2 sekali setelah sembahyang Subuh, kami (rombongan dengan 4 mobil) berangkat ke Bidakara (yang berangkat sih saya sendirian, yang nganter banyak), rombongan kami kumpul di Bidakara sebagai tempat dari Travel yang kami gunakan untuk naik haji ini. Disini semua kelengkapan Haji seperti Pasport, Gelang pengenal dan sebagainya dibagikan.
Kurang lebih Jam 8:00 rombongan Calon Haji – kami sebanyak 63 orang (antara lain bang Nasrullah – si Bajaj Bajuri, Syech Imron Pangkapi-Tokoh P3 yang tersingkir) bergerak ke Bandara Sukarno Hatta menggunakan 2 buah bis, kami naik penerbangan regular Garuda (GA9802) dari Jakarta langsung ke Jedah. Sekitar jam 16:30 waktu setempat kami mendarat di Bandara Abdul Aziz, Jedah di terminal kedatangan biasa, bukan ditempat biasanya jemaah datang karena kami menggunakan penerbangan regular, bukan khusus Jemaah haji. Masuk kedalam terminal kemudian dibagikan buku mengenai aturan menunaikan Haji dalam bahasa Indonesia, Bandaranya cukup luas walau tidak tampak modern, cukup bersih dan biasanya pemeriksaan setiap jemaah memakan waktu cukup lama terutama dipemeriksaan barang bawaan, bisa dibongkar tiap koper, tetapi rombongan kami bisa melakukan itu dengan cukup cepat tanpa perlu membuka kopor satupun.
Jedah adalah kota pelabuhan laut sejak tahun 648M (semenjak khalifah Usman bin Affan) dan saat ini merupakan kota utama serta salah satu pusat pemerintahan kerajaan Arab Saudi. Arti Jedah yaitu “nenek perempuan” karena menurut hikayat disinilah dimakamkannya Siti Hawa.
International Airport di Jedah ada 3, yaitu King Abdul Aziz, khusus untuk jemaah Haji, kemudian King Khalid International Airport yang dibuka tahun 1983 terletak 35 Km diutara Jedah seluas 225 Km2 dan airport ke 3 yaitu King Fahd International Airport berlokasi di Dahran seluas 780 Km2 yang merupakan yang terbesar dari ketiga International Airport yang ada.
Bandara KAA luasnya 105 Km2 dibuka tahun 1981 dengan banguna gedung yang cukup besar ini berbentuk seperti kemah padang pasir, yang mengherankan saya dibagian atasnya (hampir dipucuk) itu bolong, kalau hujan ya bisa basah semua yang dibawah mungkin karena jarang hujan sehingga mereka mendisain seperti itu (atau bisa ditutup saat hujan, saya tidak tahu).
Kami melakukan sholat Maghrib di Bandara sekaligus sholat ihram dan memakai pakaian ihram. Setelah makan malam Kentucky ‘ala Arab di bandara kami menaiki bus yang akan membawa kami ke Mekah, mulai jalan sekitar jam 19:30, sepanjang jalan hanya tampak pasir dan pasir saja, perjalanan berlangsung sekitar 1,5 jam.
Mekah dan Madinah adalah tempat terlarang bagi non muslim untuk memasukinya, sebetulnya lokasi larangan ini luas sekali melebar sampai Arafah, Mina dan sebagainya. Tampak tulisan dimana-mana yang menyatakan tempat terlarang tersebut.
Sesampai di Mekah langsung kami dibawa ke Muasasah yang mengurus jemaah Haji Asia Tenggara di Maktab 106 untuk didata dan diberi kartu pengenal, mengaso sejenak sambil makan makanan ringan dan buah-buahan kemudian baru bus bergerak lagi ke hotel Hilton yang terletak persis bersebrangan dengan halaman Masjid Haram.
Saya menempati kamar 2122 berempat dengan Pak Riyanto, Pak Emron Pangkapi serta Pak Prima Haris.
Tidak terasa kami mengalami pergantian tahun di Mekah dan hampir semua jemaah tidak sadar saat itu memasuki pergantian tahun baru ke tahun 2005.

Sabtu, 1 Januari 2005
Segera Kami langsung pagi itu juga sekitar jam 2:00 jalan ke Masjid Haram dipimpin Ustad Abu Bakar dan mas Imam (Mutawif yg membimbing kami selama di tanah suci dan bertempat tinggal di Mekah) untuk melakukan Thawaf Qudum (Tawaf yang dilakukan oleh orang yang baru tiba di Makkah sebagai ucapan selamat datang/bertemu dengan Ka’bah) dan kemudian malakukan Sa’i, bagaimana perasaan saya saat itu sulit dibayangkan karena saya akan melihat Ka’bah untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Ini rumah Allah yang menjadi pusat atau arah kalau kita mau sembahyang dimanapun kita berada dan saat itu saya berada sangat dekat dengan Baitullah ini, mengelilinginya, memandang dengan rasa haru yang mendalam, menyentuhnya dan terima kasih pada Allah saya diberi kesempatan ini.
Masjidil Haram memiliki banyak sekali pintu namun pada umumnya Masjidil Haram dapat didatangi dari 2 arah. Arah depan sering saya sebut arah / pintu Hilton karena dihadapannya terletak hotel dan pertokoan terkenal Hilton.
Arah belakang adalah arah / pintu Sa’I karena pintu itu langsung menuju tempat melakukan Sa’i.
Masjid Haram bentuknya sangat besar, dikelilingi disekitar dengan cahaya yang gemerlapan dari segala penjuru dan keistimewaan yang khusus diberikan oleh Allah SWT disini yaitu sembahyang di Mesjid ini nilainya sama dengan 100000x dibandingkan sembahyang ditempat lain dibumi ini kecuali Mesjid Nabawi (di Mesjid Nabawi 10000x, tetapi ada juga yang menyatakan nilainya antara Nabawi dan Haram sama 100000x entah mana yang benar).
Kemudian rombongan Kami melakukan Thawaf bersama dan dilanjutkan dengan Sa’i lalu Tahalul (memotong rambut, bisa sedikit bisa banyak) untuk membatalkan dan melepas pakaian Ihram. Semua kegiatan ini selesai menjelang jam 5:00 kemudian kami menunggu waktu shalat Subuh, salat pertama di Masjid Haram memang sahdu sekali saat udara Subuh yang dingin menyelimuti, baru stelah itu kami kembali ke Hotel untuk membersihkan badan, berganti pakaian biasa dan istirahat sejenak karena semenjak dari Jakarta belum sempat istirahat.
Dari Jakarta memang sudah diberitahu bahwa kami akan melakukan semua kegiatan di malam atau pagi hari, selain waktu yang baik, tenang juga bisa khusuk dan juga relative tidak terlalu ramai Jamaah karena saat jemaah belum menumpuk dikota Mekah.
Segera dimulailah kegiatan ibadah kami ditanah suci diawal tahun baru 2005.

Minggu, 2 Januari 2005
Setelah mengaso sejenak malamnya (artinya dari jam 22:00 sampai 1:30), Jam 2:00 pagi kami bersama bergerak lagi ke Masjid Haram. Kali ini rombongan kami sempat terpecah dan pagi ini saat saya selesai melakukan Thawaf, saya bisa berdoa di Multazam (tempat antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah).
Multazam terletak di antara Hajarul Aswad dengan pintu Ka’bah. Perkataan Multazam bermakna,” Melekat”, sebab dipanggil demikian, kerana disinilah seseorang itu patut melekatkan dadanya semasa berdoa. Abu Daud meriwayatkan, bahawa Ibnu Abbas r.a. berkata:- Dia pernah berdiri tegak di Multazam dengan dada dan mukanya mengadap ke Ka’bah. Tangannya dianjurkan ke atas kepala menekap ke Ka’bah. Kemudian beliau berkata,” Daku melihat Rasullullah s.a.w. melakukannya”.
Tidak itu saja, bahkan saya diberi kesempatan oleh NYA sembahyang sunah di Hijir Ismail sekitar jam 2:59 di syaf pertama tanpa diganggu oleh jemaah lainnya, ini cukup menakjubkan karena biasanya Hijir Ismail selalu penuh dan susah sekali bersembahyang disini tanpa gangguan, masuk kesini saja susah apalagi mau sembahyang.
Saat itu saya sebenarnya sudah ingin mencoba mencium Hajar Aswad tetapi ternyata tidak bisa, selalu serasa terdorong kembali keluar, tetapi pagi itu saya berdoa dengan khusuk dan pasrah padaNya, mohon ke ridhaanNya agar mengijinkan saya mencium Hajar Aswad selama saya ada di Mekah.

Senin, 3 Januari 2005

mecca5.jpg
AllahuAkbar, Dia mendengarkan doa saya dan mengijinkan saya mencium Hajar Aswad pagi ini, kisahnya begini :

Saat menjelang jam 1:00 pagi kami (saya, Pak Riyanto dan Bu Lies, istri Pak Riyanto) berniat melakukan Thawaf. Sesampainya didalam Masjid Haram kami lalu berputar mengelilingi Ka’bah menuju garis start melakukan Thawaf, pada saat melakukan putaran pertama selewat Hijir Ismail saya melihat Pak Riyanto dan istri mendekati dinding Ka’bah setelah lewat rukun Iraqi untuk ikut antri mencium Hajar Aswad. Saya justru terus dan dengan tekad bahwa niat saya didengarNya saya mulai masuk dari tengah mendesak kerumunan orang setelah lewat rukun Yamani. Saat itu saya mengantongi sandal saya dibungkus wadahnya, menjelang 2.5 m dari Hajar Aswad saya merasa kaki saya menyentuh bungkusan sandal, saya raba saku celana saya ternyata yang jatuh itu sandal saya. Menurut teori sebaiknya sandal itu dibiarkan karena kalau saya ambil ada kemungkinan bisa terdorong dan terinjak jamaah lain. Hati kecil saya entah kenapa mengatakan “ayo ambil” dan badan saya seketika membungkuk mengambil bungkusan sandal tadi, akibatnya … saya jadi terdorong kedepan karena saya membungkuk tersebut, ketika saya berdiri saya kaget sendiri karena didepan saya persis orang sedang mencium Hajar Aswad dan … setelah orang tersebut selesai tibalah saatnya saya bisa mencium Hajar Aswad selama sekitar 8 detik. Setelah itu saya keluar dari lingkaran dalam dengan tangis tak tertahankan karena terharu dan bersyukur pada Illahi yang mendengarkan doa saya persis pada jam 1:45. Lalu saya melanjutkan thawaf saya sampai selesai.
Ternyata Pak Riyanto dan Bu Lies tidak berhasil mencium Hajar Aswad sampai kami kembali ke Jakarta. Mungkin lain kali harus balik kesana lagi ya pak Ri.
Sekitar jam 9.00 kami serombongan mengadakan tour ke Gua Hira lalu ke Jabal Rahmah naik keatas bukit, katanya ini tempat Nabi Adam dan Siti Hawa bertemu setelah 200 tahun berpisah, kemudian kami melihat lokasi perkemahan jemaah di Mina dan lokasi wukuf nanti di padang Arafah. Kalau bukan musim haji daerah ini cuma padang pasir dan beberapa bangunan serta kemah saja tanpa ada penduduknya, tetapi saat musim haji tempat yang bernama Mina ini bisa seperti rahim seorang ibu yang membesar ketika sekian juta Jemaah Haji berkemah, sungguh merupakan misteri Illahi saja.
Saat kembali ke Mekah kami mengambil miqat di Jerona (Ji’ranah), sebuah kampung sekitar 16 Km dari mekah untuk umroh. Menurut petunjuk yang saya terima mengambil Miqot disini merupakan yang paling tinggi derajatnya diantara tempat Miqot yang lain, disini ada sebuah Masjid dan sumur Bir Thoflah yang menurut riwayat ketika Nabi Muhammad SAW kehabisan air saat perang Hunain atas kuasa Allah SWT timbulah sumur ini. Nama Ji’ranah adalah nama seorang wanita yang mengabdikan hidupnya sebagai penjaga dan membersihkan Mesjid ini.
Kemudian rombongan kembali ke hotel dan tiba dihotel setelah waktu Zhuhur lalu saya dan Pak Riyanto melakukan Thawaf setelah waktu Asyar dan selesai Sa’i setelah waktu Maghrib (terpotong sembahyang Maghrib)

Selasa, 4 Januari 2005
Rambut saya gondrong banget saat berangkat dan niatnya akan potong saat selesai Haji, orang Arab biasanya yang panjang itu jenggotnya bukan rambut jadi kalau mereka lihat saya gondrong selalu kasih komentar “Masya Allah” dan itu terjadi beberapa kali. Saya beli VCD Al Qur’an seharga R 60 (19 VCD), dibawakan oleh Imam Besar Masjid Haram, niatnya mau saya sumbangkan ke Mesjid samping rumah. Alhamdulillah saat ini selalu berkumandang di mesjid sebelah rumah saya terutama apabila ada pengajian.

Rabu, 5 Januari 2005
Ada pengalaman batin yang luar biasa saat menjelang Isya dipelataran dalam dekat Ka’bah. Saya sembahyang Magrib dekat Ka’bah kemudian daripada keluar masjid saya memutuskan menunggu waktu Isya sambil duduk dipelataran. Tanpa sadar saya melihat keatas dan tampaklah sesuatu yang menakjubkan. Seperti diketahui Masjid Haram dikelilingi beberapa menara tinggi dengan ornament bulan sabit diujungnya, saat itu saya melihat salah satu menara bermandikan cahaya indah diatasnya tampak bulan sedang berbentuk bulan sabit dan diatasnya lagi dengan jarak yang sama serta kelihatannya dekat tampak satu bintang menyala terang yang terletak dalam satu garis lurus. Langit sangat bersih tanpa awan, kalau saya bergeser 1 meter saja maka pemandangan ini pasti tidak seindah saat itu. 5 menit kemudian bintang itu sudah bergesar tidak dalam garis lurus lagi. Saya melihat sesuatu yang luar biasa pada tempat yang tepat dan waktu yang tepat. Sayangnya di Masjid Haram atau di Nabawi kita tidak boleh bawa tustel. Sebetulnya bawa Handphone berkamera sih cuma takut kualat saja … lha wong cuma berjarak tidak sampai 7 m dari Ka’bah kok mau macem-macem.

Kamis, 6 Januari 2005

Melakukan Thawaf jam 1:00 sampai 2:00 pagi, udara dingin ditambah dengan suasana hujan rintik-rintik. Rencananya sih sore ini jam 14:00 kami akan berangkat ke Madinah tetapi tunggu punya tunggu sampai menjelang Magrib barulah bus yang akan membawa kami ke Madinah datang di Hotel.
Sore itu jam 18.15 berangkatlah rombongan kami ke Madinah yang jaraknya sekitar 540Km dari Mekah (hampir seperti jarak Jakarta – Yogya) dengan terlebih dahulu berhenti di Maktab VIP 106 untuk mengurus kartu identitas dan passport yang memakan waktu sampai jam 19:30.
Sudah menjadi aturan pemerintah Arab Saudi untuk masuk Mekah dan masuk Medinah selalu kita harus melapor dan passport kita di check (mungkin juga untuk memastikan hanya orang Muslim saja yang bisa memasuki tempat ini), jadi tidak cukup pemeriksaan passport di bandara KAA Jedah saja.
Ada check point tempat pemeriksaan ini di dekat Medinah dan ratusan bus menunggu disitu untuk melaporkan jemaahnya, menjelang tengah malam bus kami berhenti dan istirahat sejenak diresto kecil ditengah padang pasir, udara padang pasir sangat dingin sekitar 8 derajat C, setelah itu kami tiba di Check Point sekitar jam 4 pagi dengan menggigil karena udara juga masih sangat dingin.
Saya tidak bisa membayangkan bagaimana beratnya hidup suku yang tinggal ditengah padang pasir menghadapi angin dingin, udara panas dan padang pasir yang seakan tidak bertepi atau bagaimana keadaannya waktu Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah yang sekarang bisa ditempuh dalam waktu sekitar 6-7 jam saat itu perlu 2 minggu ditengah kejaran orang Mekah yang tidak menyukainya.

  1. mudah mudahan aku ada rezeqi dr Allah bisa naik haji apalagikl sama keluarga semua ,amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: