topmdi

Memilih Cara Naik Haji

In Haji on November 29, 2007 at 5:34 am

Memilih Cara Naik HAJI

Menurut pengalaman dan pandangan saya cara terbaik naik haji tergantung sekali dengan cara kita mensikapi Haji itu sendiri karena setiap cara baik itu menggunakan ONH Biasa, ONH Plus atau ONH Plus-Plus semuanya ada kekurangan dan kelebihannya sendiri. Saya memang menggunakan ONH Plus, itupun didaftarkan oleh Pak Riyanto karena tahun 2004 saya lebih banyak tinggal di Yogyakarta.. Kebetulan sekali travel yang saya ikuti punya perhitungan yang tepat dan semua acara di Tanah Suci berjalan hampir sesuai rencana (seperti dibuku petunjuk Haji mereka, hanya meleset waktu perkiraan jatuhnya Hari Raya Iedul Adha)) dan adanya kesepakatan antar kita sebagai jemaah dengan pihak travel, mungkin karena rombongan kami kecil (hanya 63 orang) jadi tidak terlalu rewel (ada sih yang tidak puas, namanya juga manusia mana ada yang selalu puas).
Intinya naik Haji itu Umrah dan Arafah sedang melempar Jumrah bisa diwakilkan kalau yang bersangkutan tidak mampu atau ada halangan (uzur atau sakit berat), jadi kalau dihitung hari ya paling lama hanya 1 minggu saja (termasuk di Mina untuk jumrah selama 3 hari).

Karena adanya keinginan sebagian jemaah melakukan Arbain di Medinah (8 hari), ditambah pengaturan jadwal Pesawat Terbang, pengaturan penginapan (makin dekat waktu Haji makin tinggi sewa kamar Hotelnya makin mahal ONH nya) dan beberapa aturan pemerintah Arab Saudi menyebabkan lama ibadah bisa berbeda-beda.

Ada beberapa pilihan yang bisa diambil, kalau bayar mahal (++) bisa 1 minggu saja (tanpa Arbain) atau fasilitas lebih baik dari (+), kalau (+) sekitar 3 minggu lebih dan kalau yang biasa mencapai 40 hari.

Semua hal di Tanah Suci tidak bisa diprediksi begitu saja, harus siap lahir batin menghadapi sesuatu diluar perkiraan kita, sebagai contoh untuk ONH++ yang tidak tinggal di Mina saat jumrah tetapi memilih tinggal di hotel mewah di Mekah kemudian berangkat mabit di Mina terus jumroh dan kembali ke Mekah ternyata walau sudah berangkat jam 15 untuk jarak sekitar 10 km baru sampai jam 1 pagi berikutnya karena macet nggak ketulungan akhirnya tidak bisa mabit dan harus bayar dam. Ini menunjukan bahwa uang dan kenikmatan tempat tinggal (tidak tinggal di tenda/kemah) malah mengakibatkan ibadah kita terasa kurang afdol, belum lagi karena memang tidak tinggal di tenda/kemah akibatnya kalau ingin mengaso setelah capek macet dijalan ya tidak ada tempat dan akhirnya bergeletakan diluar tenda orang (yang tidur didalam tenda bayarnya lebih murah lho) itupun kalau bisa masuk ke area tenda karena tidak setiap orang bisa masuk kalau travelnya tidak terdaftar.
Ini betul-betul terjadi disamping tenda kami dan saya tidak usah menunjuk travel mana.

Untuk ONH biasa kesulitannya biasanya mereka ditempatkan di Aziziyah yang cukup jauh dari Masjidil Haram tapi bisa jalan kaki ke Mina atau kalau di Madinah disuatu tempat yang juga agak jauh dari Masjidil Nabawi, mungkin karena masalah biaya.

Sering mereka menunggu sembahyang berikutnya karena kalau pulang dulu ya tidak ada waktu lagi, terutama yang jarak waktu sembahyangnya dekat seperti dari Zhuhur ke Asar, Magrib dan Isya

Untuk ibadah di Mina juga tempat tinggalnyanya kadang cukup jauh dari tempat lempar Jumrah.

Perkemahan untuk jemaah yang berasal dari Asia tenggara (ONH biasa) harus melalui terowongan dulu (yang sering kejadian kecelakaan, kalau kita salah milih waktu yang tepat) disini perlu kejelian memilih waktu jangan lempar jumrah diwaktu padat orang, kesulitannya ya harus jalan kaki cukup jauh saja.

Untuk menghilangkan waktu senggang selama ditanah suci biasanya jemaah Indonesia pergi ke Pasar seng (di Mekah, dekat Masjid Haram tetapi saya sendiri tidak pernah kesitu sehingga tidak bisa cerita banyak) atau ke mal dekat Masjid Nabawi, resikonya ya keluar uang buat beli ini itu.

Kalau anda bisa memilih travel, coba cari (kalau yang ONH +) yang tujuannya setelah di Mekah beberapa saat (untuk melakukan Umrah dulu) terus Arbain ke Medinah baru masuk ibadah haji dan kembali ketanah air, karena setelah ibadah di Arafah biasanya kita sudah kangen mau pulang saja, kalau terbalik yaitu haji dulu baru Arbain rasanya jadi lebih berat.
Ini menurut saya lho, setiap orang bisa berbeda pendapat. Untuk ONH biasa ya terpaksa menunggu dapat jadwal berangkat tanggal berapa, kloter berapa nggak ada pilihan lain.
Satu hal yang perlu diingat jangan sampai terbujuk oleh travel yang menawarkan mengganti nama orang lain yang karena alasan tertentu tidak bisa berangkat haji karena kemungkinan kita ditolak masuk Tanah Suci walau sudah ada pasport haji sangat besar (ini juga kejadian lho) dan travel yang nakal juga bisa diperingati oleh Pemerintah Arab Saudi, tetapi ya ada juga yang coba-coba, ini naik haji lho … kalau belum terpanggil ya jangan coba-coba.

Pilih travel yang tidak terlalu banyak orangnya, biasanya lebih akrab dan juga lebih fleksibel dalam pengaturan jadwal.

Untuk cendera mata banyak pilihan, bisa minyak wangi seribu bunga atau hajar aswad tapi inipun banyak kualitasnya, kalau bisa yang berwarna bening jangan yang coklat.

Tasbih banyak sekali atau kalau mau gampang beli saja di Tanah Abang, harganya sama dengan di Mekah seperti kacang arab dan lainnya.

Barang elektronik juga harganya tidak jauh beda dengan Jakarta asal tahu tempatnya kadang malah lebih murah di Jakarta, di Jakarta lebih gampang garansinya kalau rusak.

Mungkin kalau mau beli karpet (ini barangnya besar lho tapi bisa minta dikirim lewat courier service, tapi tujuan kita mau beribadah atau dagang sih?, atau keduanya?) atau sajadah yang bagus bisa dipertimbangkan karena disana memang kualitasnya umumnya lebih baik.

Bawa uang bisa dalam US$ atau ditukarkan ke Real atau kalau nggak mau pusing ya bawa saja rupiah, bisa ditukar kok dan rate nya bagus.

Akhirnya saya hanya mendoakan agar teman-teman semua bisa pergi ka Tanah Suci pada saatnya, jangan pikirkan nanti bagaimana tetapi pikirkan niat kita berangkat memang memenuhi panggilannya sebagai tamu Allah ketanah suci. Pasrah saja dan terima semua cobaan, karena memang itu yang harus dilalui.

Jangan berpikir mengenai berapa pahala kalau sembahyang disini atau disitu karena itu urusan Nya jadi nikmati saja saat-saat kita bisa sembahyang di Masjid Haram atau Nabawi, banyak berdoa dan merenung segala yang sudah kita perbuat, mendekatkan diri pada Nya dan semoga Haji kita mabrur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: