topmdi

Haji – 2

In Haji on November 29, 2007 at 5:22 am

Berapa Hal Yang Perlu Diketahui

RUKUN HAJI.
Rukun haji ada 6:
Ihram
Wukuf di Arafah
Tawaf ifadah
Sa’i
Bercukur
Tertib sesuai dengan tuntutan manasik haji

WAJIB HAJI
Wajib haji ada 6:
Ihram dari miqat
Mabit di Muzdalifah
Mabit di Mina
Melontar jamrah
Menghindari perbuatan yang terlarang dalam keadaan berihram
Tawaf wada’ bagi yang akan meninggalkan Makkah

Umroh
Ibadah ini cukup mengundang banyak diskusi dalam pelaksanannya. Sebagian orang mengatakan ibadah ini tidak begitu penting karena tidak dicontohkan oleh nabi besar kita. Menurut mereka Nabi Muhammad pergi berhaji namun tidak melakukan umroh. Sebagian lain mempercayai hadits yang mengatakan bahwa umroh 7 kali hitungannnya sama dengan berhaji 1 kali (saya sangat meragukan hal ini, maaf saya bukan ahli agama).
Namun demikian didalam group saya sering diadakan acara umroh, seingat saya sampai 4 kali . Kadang dilakukan pagi hari (jam 2 pagi), kadang dilakukan malam atau sore hari . Tempat miqat-nya pun bergantian kadang di Jedah saat mendarat pertama kali di Tanah Suci, kadang di Jaronah, kadang di Tan’im. Saya melihat penyelanggara di group saya mengadakan umroh minimal untuk mengisi waktu luang dari para jemaahnya selain untuk mendekatkan diri pada NYA.

Sedikit kesulitan pada umroh adalah karena transportasi. Untuk melakukan umroh kita harus pergi ke tempat miqat yang lumayan jaraknya dari Mekah (sekitar 30 – 60 menit dengan bus privat). Kalau teman-teman senggang, menarik untuk merasakan pelaksanaan umroh ini dalam berbagai situasi: pagi sampai siang yang ramai dan terik atau malam hari yang dingin dan kadang diserang rasa kantuk.

Thawaf
Selain umroh, thawaf, yang relatif lebih singkat, adalah satu-satunya ibadah yang hanya bisa dilakukan di tanah suci karena harus mengelilingi ka’bah sebanyak 7 kali. Ibadah lainnya seperti khatam Quran, tahajud, i’tikaf, bisa dilakukan di Indonesia tetapi tidak demikian halnya dengan thawaf sehingga ada sebagian orang yang lebih menyarankan untuk memperbanyak thawaf dari pada ibadah lainnya. Thawaf hitungannya seperti shalat tahiyatul masjid, jadi kalau ke Masjidil Haram, lakukan thawaf sebagai pengganti shalat tahiyatul masjid baru kemudian melakukan ibadah lainnya. Namun thawaf juga bisa dilakukan setelah kita melakukan ibadah lainnya terlebih dahulu.
Waktu pertama kali thawaf, kaget juga karena langsung berdesakan dengan orang-orang banyak. Saya memastikan diri untuk tidak tertinggal dari rombongan.

Setelah melakukan 2 – 3 kali, saya memahami bahwa tidak perlu ragu untuk melakukan thawaf sendiri. Lakukanlah dengan tenang sambil membaca doa dengan khusuk, namun usahakan untuk tetap berjalan dengan kecepatan yang tidak terlalu jauh dengan orang-orang sekitar, karena kalau tidak akan mengganggu. Minimum, tanpa selalu berusaha untuk tetap dalam 1 rombongan, kita bisa memiliki konsentrasi yang lebih kepada doa dan ibadahnya.
Thawaf yang paling singkat dan paling tidak melelahkan adalah dilakukan sedekat mungkin dengan Kabah, namun tentu saja paling penuh (trust me always penuh, jam berapapun). Di waktu-waktu jauh sebelum maupun sesudah waktu haji, thawaf di lantai Kabah masih nyaman dilakukan karena belum sangat padat dan bisa diselesaikan sekitar 30 sampai 45 menit.
Thawaf yang juga nyaman namun capai adalah di lantai 2 atau di lantai 3 masjid haram, saya lakukan hal ini sebetulnya hanya untuk mencoba saja terutama yang dilantai 3. Karena lingkarannya lebih di luar sehingga jauh lebih lebar tentu saja akan semakin jauh. Rasanya butuh sekitar 1 – 1.5 jam untuk selesai tergantung ramai tidaknya situasi saat itu.
Perlukah kita hafal doa thawaf, saya belum pernah mendengar nasihat yang sangat merekomendasikan untuk hafal seluruh doa thawaf. Menurut pendapat saya, lebih baik untuk mempelajarinya semampu kita sebelumnya. Yang lebih penting adalah memahami artinya.
Bawalah selalu buku doa yang paling mudah dibaca dan mudah dibawa untuk dibaca selama 7 putaran thawaf. Banyak sekali orang di sekitar kita yang akan melakukan hal yang sama. Ada pula mereka yang berjalan dalam group, 1 orang pemimpinnya membacakan dengan keras yang kemudian diikuti oleh jemaah lain di belakangnya. Saya kurang menyukai cara ini karena kadang-kadang pemimpin rombongan suaranya tidak cukup terdengar. Belum lagi kalau kita berdekatan dengan rombongan yang pemimpinnya bersuara lebih keras, bisa kacau doa kita.
Perlu diingat thawaf itu seperti shalat, kita harus dalam keadaan berwudlu pada saat menjalaninya. Kalau kita batal di tengah jalan, keluarlah dari lingkaran, ambil air wudlu lalu kembali melanjutkan dari titik yang kita tinggalkan tadi. Tetapi kemungkinan senggolan dengan orang yang bukan muhrim kita sangat besar, untuk itu apabila tidak dilakukan dengan sengaja maka hal itu tidak membatalkan wudlu kita.

Sa’i
Sa’i ialah berjalan mulai dari bukit Safa ke bukit Marwah dan sebaliknya sebanyak 7 kali yang berakhir di bukit Marwah (perjalanan dari bukit Safa ke bukit Marwah dihitung satu kali). Jemaah haji yang melakukan sa’i tidak wajib suci dari hadas besar atau kecil, tetapi disunatkan.
Naik ke atas bukit Safa/Marwah waktu sa’I tidak disyaratkan. Jika keadaaan memungkinkan sebaiknya naik ke atas bukit Safa/Marwah, akan tetapi jika sulit karena berdesakan cukup sampai di kaki bukit saja.

Shalat Tahajud, Dhuha, dan shalat lainnya
Tentu saja anjuran untuk melakukan shalat lain sering didapat. Shalat Tahajud adalah salah satunya. Shalat ini baik dilakukan, selain karena shalat ini paling dianjurkan (satu-satunya shalat di luar shalat 5 waktu yang disebutkan di dalam al Quran), shalat Tahajud membuat kita berkesempatan untuk barada di masjid sampai malam hari.
Dalam perjalanan yang saya lakukan, ada malam-malam yang oleh penyelenggara diadakan shalat Tahajud bersama. Bersama ini tidak dimaksudkan untuk dilakukan secara berjamaah melainkan agar siapa yang ingin dapat pergi ke mesjid bersama. Bagi para ibu atau wanita yang pergi ke masjidil Haram tanpa muhrim atau teman pria tentu hal ini sangat membantu karena ada yang mengantar pergi ke mesjid di malam hari.
Saya agak lupa jam berapa berangkat, mungkin sekitar jam 2 pagi. Sesampai di masjid kita bersama-sama thawaf yang dilanjutkan dengan shalat Tahajud. Selesai shalat kami masih di masjid menunggu shalat Subuh. Kami baru pulang setelah selesai shalat Subuh.

Kalau melakukan ibadah-ibadah malam ini, pastikan kondisi badan dalam keadaan sehat. Dalam keadaan kurang sehat, lebih baik shalat di penginapan saja. Di dalam masjidpun sebaiknya melihat kondisi terlebih dahulu. Setelah selesai thawaf di lantai kabah (biasanya di malam hari agak sedikit longgar sehingga berthawaf disini tidak terlalu berdesakan), kalau terlalu dingin lakukanlah shalat di dalam bangunan masjid (jangan di lantai Kabah). Bulan Desember dan Januari udara Mecca sudah cukup dingin di malam dan pagi hari. Shalat Tahajud, apalagi shalat Tasbih cukup berat dan lama.

Kebalikan dari shalat Tahajud, shalat Dhuha diselenggarakan agar kita punya alasan mengunjungi masjid di pagi hari.

I’tikaf
Menurut pengertian umum i’tikaf adalah berdiam di mesjid di malam hari untuk berdoa dan mengingat Allah. Seperti sebelumnya telah diuraikan selain ditujukan untuk berbuat amalan-amalan yang baik, berdiam diri di masjid juga diperuntukkan untuk merasakan suasana masjid Haram di malam hari.

Memandang Ka’bah
Dalam ibadah-ibadah di atas berulang-ulang saya menyampaikan saran untuk menjalankan banyak ibadah di Masjdil Haram. Agungnya mesjid ini adalah karena keberadaan Ka’bah di dalamnya. Ka’bah adalah bangunan berbentuk menyerupai kubus merupakan bangunan pertama didunia yang digunakan untuk tempat menyembah Allah, tinggi seluruh dinding 15m, lebar dinding utara 10.02m, lebar dinding barat 11.58m, lebar dinding selatan 10.13m dan dinding timur 10.22m. Konon hanya dengan memandang Ka’bah sudah merupakan amalan yang baik bagi kita. Karenanya disela-sela ibadah yang akan teman-teman lakukan di dalam masjid, kalau anda merasa lelah, duduklah saja dengan tenang di manapun di dalam masjid dimana Ka’bah terlihat dengan jelas, pandanglah, renungkanlah, dan simpanlah pemandangan tersebut dalam ingatan teman-teman, akan menjadi oleh-oleh yang sangat indah bagi diri sendiri.
Ada beberapa kawan yang dalam keadaan penuhpun selalu berusaha shalat di tempat yang sedepan mungkin. Hal ini ia lakukan agar dalam shalatnya di Masjidil Haram dia dapat melihat Ka’bah sebanyak-banyaknya. Ka’bah diperintahkan sebagai kiblat dalam setiap shalat kita, sangat masuk akal jika selama Ka’bah memang didekat kita, kita berusaha untuk dapat shalat sambil memandangnya.

Memandang Ka’bah dari lantai yang teratas juga mengasyikkan. Melihat putaran orang yang tak putus-putusnya mengelilingi Ka’bah membawa kita dalam perenungan kepasrahan para jemaah terhadap ibadah thawaf yang diperintahkan.
Membawa kita dalam perenungan putaran hidup para muslimin dalam muslimah yang selalu berpusat pada penciptaNya.
Memandang Ka’bah dari lantai yang teratas juga memungkinkan kita untuk melihat persiapan menjelang shalat wajib berjamaah. Seperti teman-teman ketahui Ka’bah tidak henti-hentinya di kelilingi orang untuk thawaf 365 hari dalam 1 tahun, 24 jam setiap harinya, kecuali pada saat dilaksanakan shalat berjamaah. Shalat yang dilakukan adalah shalat yang 5 waktu, shalat Jumat, shalat Tarawaih (yang sering kita liht di TV) dan shalat-shalat di hari besar seperti shalat Ied baik di Iedul Fitri dan Iedul Adha. Kecuali di waktu-waktu itu, tidak pernah bisa dilihat lantai di sekeliling Ka’bah, selalu penuh orang.
Menjelang shalat wajib, tempat disekitar Ka’bah dibersihkan dari kerumunan orang. Orang –orang diminta berhenti dari thawaf di sekitar Ka’bah (askar atau polisi masjid yang melakukan ini). Mula-mula yang ditutup adalah daerah di dalam lengkung Hijir Ismail. Setelah tempat ini kosong, mulailah berdatangan diangkut jenasah-jenasah yang akan dishalatkan setelah shalat wajib. Segera setelah qomat berkumandang, tempat di sekitar Ka’bah bersih dari orang-orang, imam segera berdiri di depan microphone dan dimulailah shalat. Pada saat itu berhentilah segala keriuh-rendahan akibat thawaf, sa’i, atau ibadah lain, ribuan orang yang memenuhi masjid dengan patuh semua melakukan shalat sesuai dengan aba-aba imam. Sekali-sekali bershalatlah di barisan yang paling depan di lantai teratas Haram dan nikmatilan pemandangan ini. Selama saya di Mekah semua sudut Masjid Haram sudah saya datangi untuk bersembahyang, dari Masjid lama, arah timur, barat, utara dan selatan, tingkat 2 dan 3 sampai atas mesjid dimana Ka’bah terletak dibawah kita sudah saya jalani, kapan lagi kita bisa sembahyang menghadap arah timur, utara atau selatan kalau bukan dilingkaran Masjid yang besar ini.

Shalat Jenasah
Hampir di setiap akhir shalat wajib dilakukan shalat jenasah, bahkan setelah shalat Subuh di pagi hari. Jenasah yang dishalatkan kebanyakan adalah para jamaah dan diletakan dilingkaran Hijir Ismail atau dekat Multazam. Nama mereka tidak pernah diumumkan, hanya beberapa saat setelah shalat wajib selesai akan ada panggilan untuk melakukan shalat jenasah. Shalat ini tidak wajib untuk diikuti. Saran saya hanyalah teman-teman ada baiknya mempelajari shalat jenasah ini sebelum berangkat haji agar jika ingin melakukannya sudah bisa.

Hajar Aswad
Hajar Aswad diyakini sebagai batu yang pertama kali di letakkan oleh nabi Ibrahim ketika beliau mendirikan ka’bah. Mencium Hajar Aswad adalah impian semua orang. Kalau tidak yakin dan berketatapan hati (alias ada rasa takut) janganlah mencoba mencium Hajar Aswad. Mendekati Hajar Aswad membutuhkan perjuangan karena sangat penuh sehingga kalau kita takut atau ragu-ragu akan berbahaya.

Hijir Ismail
Apa dan dimana letak Hijir Ismail itu ?
Hijir ismail adalah bagian bangunan dari Ka’bah yang terletak anatara Rukun Syamin dan Rukun Iraqi yang ditandai dengan tembok berbentuk setengah lingkaran (lihat gambar ka’bah diatas, yang berbentuk setengah lengkaran itu adalah Hijir Ismail)
Ibadah yang dapat dilaksanakan di dalam Hijir ismail ialah melakukan shalat sunat berdoa dan zikir. Shalat sunat di hijir Ismail tidak ada kaitannya dengan Thawaf. Dalam kitab Fi Rihaabil Baitil Haram dijelaskan pada suatu hari ketika Nabi Ismail As menyampaikan keluhan kepada Allah SWT tentang panasnya kota Mekah, lalu Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Ismail AS : “Sekarang Aku buka Hijirmu salah satu pintu surga yang dari pintu itu keluar hawa dingin untuk kamu sampai hari Kiamat nanti”.
Keutamaan shalat di Hijir Ismail itu sama dengan shalat di dalam Ka’bah. Pada saat shalat wajib, tempat ini diisi oleh jenasah-jenasah yang akan dishalatkan, sehingga shalat yang bisa dilakukan disitu adalah shalat sunnah.
Karena keistimewaannya tempat ini selalu penuh. Bagi yang ingin shalat disini lebih baik tidak sendiri, pergilah berombongan.
Pada saat melakukan shalat, lakukanlah bergantian, sebagian shalat sebagain lainnya menjaga disekitarnya. Karena penuh, desakan dan dorongan terjadi disini sehingga orang tidak cukup waspada ketika melangkah. Yang ditakutkan adalah ada orang yang tidak sengaja menginjak orang yang dalam keadaan sujud.

Wukuf
Waktu wukuf mulai dari tergelincir matahari tanggal 9 Zulhijjah sampai dengan terbit fajar tanggal 10 Zulhijjah. Wukuf dinilai sah walaupun dilaksanakan hanya sesaat selama dalam rentang waktu tersebut, tetapi diutamakan mendapatkan sebagian waktu siang dan waktu malam. Pada tanggal 8 Zulhijah jamaah haji berpakaian ihram (niat) haji bagi yang berhaji tamattu’ dipemondokkan masing-masing, sedangkan bagi yang berhaji ifrad dan qiran tidak niat haji lagi karena masih dalam keadaan ihram sejak dari miqat saat tiba, setelah itu berangkat ke Arafah.
Pada tanggal 9 Zulhijah bagi jamaah haji yang telah berada dalam kemah masing – masing menanti saat wukuf (ba’da zawal) sambil berdzikir dan ber do’a.

Jumrah
Apakah yang dimaksud melontar jamrah?
Yang dimaksud ialah melontar jamrah Ula, Wusta dan ‘Aqabah dengan batu kerikil pada hari nahar dan hari-hari tasyrik.
Mana yang dimaksud dengan jumrah Ula, Wusta dan Aqabah?
Jamrah Ula (pertama) adalah jamrah yang terdekat dari arah Haratullisan
Jamrah Wusta (tengah) adalah jamrah yang kedua (yang terletak di tengah-tengah antara jamrah Ula dan jamrah Aqabah).
Jamrah Aqabah (qubra) adalah jamrah yang terjauh dari arah Haratullisan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: